Menu

Liputan 6 SCTV (Arsip 22 Februari 2019)

9 / 100 vidio
Laporkan Spam Video

Marak Sewa Motor Listrik, Bagaimana Legalitasnya - Liputan 6 Siang

  • Suka
  • 0 Komentar
  • Diterbitkan February 16, 2019
Penyewaan motor listrik kini marak di Jakarta. Tak jarang penyewa membawa motor listrik hingga ke jalan raya. Hal ini menimbulkan polemik karena motor listrik tidak dilengkapi dengan STNK dan pengendara pun sering kali merupakan anak-anak yang belum memiliki SIM. Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Sabtu (16/2/2019), maraknya penyewaan motor listrik Migo yang belum dilengkapi dengan payung hukum yang jelas menimbulkan polemik tersendiri di masyakarat. Penyewaan motor listrik sudah menjamur diberbagai daerah di Jakarta seperti Warakas dan Matraman. Motor listrik dianggap sebagai terobosan teknologi kendaraan yang ramah lingkungan. Dengan kondisi baterai penuh, motor listrik bisa melaju sejuah 40 km dengan kecepatan maksimum 40 km per jam. Untuk mengendarainya, cukup dengan mengakses aplikasi penyewaan dari smartphone penyewa. Dengan tarif Rp 3.000 rupiah per 30 menit, Migo bisa dibawa berjalan-jalan kemana pun. Bahkan seringkali penyewa menggunakan motor listrik ke jalan raya. “Saya belum punya SIM buat naik motor ini” ujar penyewa, Tiara. Tanpa sim dan kendaraan ber-stnk, mengemudi di jalan raya, tentu saja termasuk perbuatan melanggar hukum. Berdasarkan aturan yang berlaku mengemudi dijalan raya harus dilengkapi dengan SIM dan kendaraan pun wajib terdaftar atau memiliki STNK. “Peraturan sudah ada ya.... Kalau kendaraan yang beroperasi di jalan harus ada regisrasinya,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Yusuf. Namun demikian, selain menyenangkan bagi para penyewa, motor listrik pun merupakan usaha yang menggiurkan. Hanya cukup menyediakan rumah sebagai pangkalan motor listrik, sang pemilik sudah bisa mendapatkan keuntungan Rp 700 ribu per bulan. Menanggapi maraknya motor listrik di jalan raya, pedagang menyatakan sudah menghimbau penyewa untuk tidak menggunakan motor listrik ke jalan raya. “ Diharap motor ini hanya digunakan di kawasan perkampungan saja. Untuk jemput anak sekolah atau ke pasar,” ujar pengusaha motor listrik, Rahayu Budi. Tentunya, masyarakat berharap payung hukum penggunaan motor listrik segera dibuat agar manfaat dari kemajuan teknologi bisa maksimal dirasakan masyarakat.
NEWS
Bagikan ke teman Anda