Menu
Koleksi Terbaru TomoNews Indonesia

Bandara baru Yogyakarta, pro dan kontra - TomoNews

  • TOMONEWS INDONESIA
  • 0 Komentar
  • Simpan
  • Laporkan
  • Simpan
  • Laporkan
  • TOMONEWS INDONESIA
    TOMONEWS INDONESIADiunggah December 13, 2017

    KULON PROGO, DIY — Awal bulan Desember lalu belasan orang ditangkap polisi saat menolak pengosongan lahan untuk pembangunan New Yogyakarta International Airport di Temon, Kulon Progo. Masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu menolak karena berkeras mempertahankan rumah mereka dari pembersihan lahan. Mereka terancam kehilangan lahan akibat pembangunan Bandara baru tersebut. Namun, di sisi lain Angkasa Pura dikejar target waktu untuk menyelesaikan Bandara sampai bulan Maret 2019. Sementara itu, pembangunan NYIA sebenarnya sudah diwacanakan sejak era SBY di tahun 2011 mangkrak, sehingga Jokowi melanjutkannya di Januari 2017. Jokowi pun telah meneken PP 98/2017 tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara di Kulon Progo. Selama tahun 2017, Jokowi sering mengunjungi Kulon Progo untuk mengecek pembangunan bandara baru tersebut. Dalam kunjungannya, beliau pernah menceritakan prediksi orang Jawa kuno yang berbunyi: Bahwa kelak di Temon akan muncul penjual cincau yang berjualan di angkasa. Kelak, Temon akan menjadi sarang capung besi atau pesawat. Tempat antara utara Gunung Lanang dan selatan Gunung Jeruk akan menjadi kota. Glagah bakal menjadi mercusuar dunia. Namun, menurut data yang disusun paguyuban penolak NYIA, terdapat 11.501 jiwa warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani, nelayan dan buruh itu akam terdampak akibat pembangunan tersebut. Berdasar peta dari Pusat Ruang Udara Jerman, calon lokasi NYIA tersebut rawan gempa dan tsunami. Dan juga masuk dalam zona yang paling terkena tsunami dengan peringatan awas dan sangat bahaya. Selain itu kawasan pesisir Kulon Progo tersebut merupakan 1 dari 14 gumuk atau bukit pasir pantai di dunia yang memiliki fungsi ekologis sebagai benteng terhadap ancaman tsunami. Dengan pembangunan NYIA, akan menghilangkan pengaman alami itu. Berkaitan dengan target swasembada pangan yang dicanangkan oleh Jokowi, setidaknya ada 300 kepala keluarga atau 1.200 orang di lahan terdampak penggusuran bandara Kulon Progo menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Apakah penggusuran akan mencapai target swasembada pangan yang ditargetkan Jokowi harus tercapai pada 2018 atau 2019? Tentu ini merupakan pilihan yang dilematis antara pencapaian target swasembada pangan atau perealisasian infrastruktur.

      Tulis komentar ...

      Jadwal

      News
      Bagikan ke teman Anda