Menu
Potret

Potret Menembus Batas: Surga Teri di Kampung Bajo

  • Liputan6.com
  • 0 Komentar
  • Laporkan
  • Laporkan
  • Liputan6.com
    Liputan6.comDiunggah December 11, 2017

    Laut Indonesia menutupi hampir 65 persen dari total wilayah dengan biota paling bervariasi di dunia. Dari ikan berukuran besar hingga kecil, termasuk teri, ikan berkelompok yang ukurannya tak lebih dari lima centimeter. Teri memang berukuran mini. Tetapi, teri punya arti besar bagi masyarakat desa terapung di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Ketika temaram senja mulai berganti gulita, Sudin yang dibantu seorang rekan memulai rutinitas hariannya sebagai nelayan apung. Mengarahkan lampu ke laut untuk memanggil plankton, sumber makanan gerombolan teri yang sangat peka terhadap cahaya benderang. Ketika sebagian besar orang menuju peraduan, lelaki berusia 53 tahun ini berjibaku. Sudin, satu dari ratusan nelayan bagan apung di desa yang masuk ke dalam Kecamatan Mawasangka. Desa yang perputaran roda ekonominya sangat bergantung dari ikan teri. Memang ini bukan Medan, nama kota yang kadung kesohor di belakang penyebutan ikan teri. Akan tetapi tak bisa dipungkiri, desa terapung adalah salah satu sentra penghasil ikan teri terbesar di negeri ini. Terapung merupakan desa yang tetap bersahaja. Namun, desa ini memiliki penggalan sejarah panjang kebaharian sebagai keturunan Bajo yakni suku pengarung samudera. Matana Surumba menjadi istilah lokal untuk menyebut Buton Tengah sebagai daerah yang menjadi basis pertahanan di masa Kesultanan Buton. Orang Buton sangat bergantung kepada laut dari generasi ke generasi. Termasuk bagi Sudin, satu pewaris tongkat estafet penjaga lautan dari Buton Tengah. Ikan teri menjadi denyut nadi di Dusun Waburense, dusun pesisir Selat Muna. Dalam satu musim angin timur, Mei hingga September, daerah pesisir di Selat Muna ini dapat menghasilkan lebih dari 420 ton. Meski minim sarana dan prasarana, perputaran uang di Waburense dalam sehari tak bisa dianggap bisnis kelas teri. Namun, pengolahan ikan teri di sini masih sangat sederhana. Setelah direbus dengan air garam, proses pengeringan masih mengandalkan terik matahari. Dalam seminggu, Waburense memasok kebutuhan teri hingga 10 ton. Teri, ikan berukuran kecil namun kaya protein dan mineral. Pangsa pasar yang membentang luas dari ibu kota hingga mancanegara.

    Belum Ada Komentar
    Yuk mulai tulis komentar kamu
      Langganan untuk bisa berkomentar
      Tulis komentar ...

      Jadwal

      News
      Bagikan ke teman Anda